Laba Bersih Astra Tahun 2011 Naik 24% menjadi 17,8 Triliun
JAKARTA : PT Astra International Tbk (“Perseroan”) pada hari ini, Senin, 27 Februari 2012, mengumumkan bahwa kinerja Perseroan dan anak perusahaan (“Astra”) tahun 2011 menunjukkan hasil yang sangat baik dan merupakan yang tertinggi sejak berdiri 55 tahun silam.
Pendapatan bersih Astra tahun 2011 mencapai Rp 162,6 triliun, meningkat 26% dibandingkan periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp 129 triliun. Hal ini mendorong kenaikan laba bersih Astra sebesar 24% dari Rp 14,4 triliun menjadi Rp 17,8 triliun pada tahun 2011. Laba bersih per saham juga naik 24% menjadi Rp 4.393 per saham dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 3.549 per saham.
“Grup Astra menunjukkan kinerja yang sangat memuaskan di semua lini bisnisnya, sehingga Perseroan dapat melaporkan laba bersih dan nilai aset bersih perusahaan yang tertinggi sepanjang Astra berdiri. Grup Astra memiliki posisi keuangan yang kuat, menjadi pemimpin pasar di sektor bisnis yang digeluti dan terus memanfaatkan peluang dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, tingkat pertumbuhan pendapatan di masa mendatang tetap rentan terhadap kebijakan dalam negeri dan kondisi moneter dunia,” ungkap Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk.
Kegiatan Grup Astra fokus kepada enam bisnis inti, yaitu Divisi Otomotif; Jasa Keuangan; Alat Berat dan Pertambangan; Agribisnis; Infrastruktur dan Logistik; serta Teknologi Informasi dengan rincian sebagai berikut :
Divisi Otomotif
Kontribusi laba bersih Divisi Otomotif tahun 2011 meningkat 13% menjadi Rp 8,3 triliun, termasuk kontribusi dari perusahaan asosiasi dan jointly controlled entities di bidang otomotif sebesar Rp 4,8 triliun. Kontribusi laba bersih Perseroan dan anak perusahaan otomotif yang dikonsolidasi sebagian besar dihasilkan dari aktivitas penjualan dan bisnis komponen otomotif. Sedangkan kontribusi laba bersih perusahaan asosiasi dan jointly controlled entities terutama dihasilkan dari kegiatan produksi dan distribusi otomotif.
Total penjualan mobil nasional meningkat 17% menjadi 894.000 unit. Penjualan mobil Grup Astra (Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks dan Peugeot) mengalami kenaikan 13% menjadi 483.000 unit, dengan pangsa pasar sebesar 54% dibandingkan 56% pada tahun lalu. Penurunan pangsa pasar ini disebabkan oleh berkurangnya supply akibat tsunami Jepang dan banjir di Thailand. Pertumbuhan penjualan mobil Grup Astra pada tahun 2011 didukung oleh peningkatan kapasitas produksi PT Astra Daihatsu Motor (yang 32% sahamnya dimiliki Perseroan) sebesar 40% menjadi 330.000 unit per tahun dan peluncuran 12 model baru. Sepanjang kuartal ke 4 tahun 2011 Astra meluncurkan New Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, mengganti 2 model terlaris generasi sebelumnya.
Sementara itu penjualan sepeda motor nasional naik 9% menjadi 8 juta unit dibandingkan periode yang sama di tahun 2010. Penjualan sepeda motor PT Astra Honda Motor (AHM) tumbuh 25% menjadi 4,3 juta unit dan berhasil meningkatkan pangsa pasar dari 46% menjadi 53% dengan penjualan tertinggi di segmen motor skuter. Penjualan di tahun ini terutama didukung oleh peningkatan kapasitas produksi PT Astra Honda Motor (yang 50% sahamnya dimiliki oleh Perseroan) sebesar 23% menjadi 4,3 juta unit per tahun, disertai dengan peluncuran 6 model baru dan facelift 8 model yang sudah ada.
PT Astra Otoparts Tbk (AOP), perusahaan di bidang manufaktur komponen yang 95,7% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, mencatat laba bersih sebesar Rp 1 triliun, di mana 69%-nya merupakan kontribusi dari perusahaan asosiasi dan jointly controlled entities. Laba bersih AOP turun sebesar 12% dari tahun sebelumnya, terutama dikarenakan adanya kenaikan biaya bahan baku yang tidak dapat dibebankan seluruhnya ke konsumen, dan juga meningkatnya biaya pemasaran dan branding untuk memperkuat merek GS-Astra dan Federal.
Divisi Jasa Keuangan
Kontribusi laba bersih Divisi Jasa Keuangan mengalami kenaikan 26% menjadi Rp 3,3 triliun.
Hal ini didukung oleh meningkatnya piutang pembiayaan seiring dengan pertumbuhan industri keuangan, menurunnya tingkat bunga pinjaman luar negeri dan kualitas kredit konsumen yang stabil. Total pembiayaan melalui bisnis pembiayaan otomotif Astra yang terdiri dari Federal International Finance, Astra Credit Companies and Toyota Astra Financial Services tumbuh sebesar 13% menjadi Rp 49,4 triliun, termasuk melalui joint financing without recourse.
Total pembiayaan alat berat Astra melalui PT Surya Artha Nusantara Finance dan PT Komatsu Astra Finance meningkat sebesar 51% menjadi Rp 7,3 triliun. Bisnis pembiayaan alat berat tidak menggunakan fasilitas joint financing.
PT Asuransi Astra Buana (“AAB”), anak perusahaan yang bergerak di bidang asuransi, membukukan peningkatan laba seiring dengan meningkatnya premi ritel dan komersial.
PT Bank Permata Tbk, yang merupakan jointly controlled entities di mana 44,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan laba bersih sebesar Rp 1,2 triliun, meningkat sebesar 15%, didorong oleh pertumbuhan dari pendapatan bunga bersih sebesar 26%, dan fee based income sebesar 19%, dengan pertumbuhan pinjaman sebesar 31%.
Divisi Alat Berat dan Pertambangan
Kontribusi laba bersih Divisi Alat Berat dan Pertambangan meningkat 52% menjadi Rp 3,6 triliun.
PT United Tractors Tbk (“UT”), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, sepanjang tahun 2011 membukukan peningkatan laba bersih sebesar 52% menjadi Rp 5,9 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung oleh kenaikan penjualan alat berat Komatsu sebesar 57% menjadi 8.467 unit.
PT Pamapersada Nusantara (“PAMA”), yang merupakan anak usaha UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mencatat peningkatan produksi batu bara 11% menjadi 86,8 juta ton dan peningkatan pengerjaan pemindahan tanah (overburden removal) 22% menjadi 796,4 juta bcm. Melalui tambang yang dimiliki, Grup UT menjual 4,5 juta ton batu bara. Saat ini UT dan anak perusahaannya telah memiliki 8 tambang batubara, termasuk tambahan akuisisi 5 konsesi pertambangan di tahun 2011, dengan total perkiraan cadangan berdasarkan estimasi internal sebesar 250 juta sampai 370 juta ton.
Divisi Agribisnis
Kontribusi laba bersih Divisi Agribisnis meningkat 19% menjadi Rp 1,9 triliun.
PT Astra Agro Lestari Tbk, yang 79,7% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, mencatat laba bersih sebesar Rp 2,4 triliun atau naik 19%, dikarenakan adanya peningkatan produksi minyak sawit sebesar 14% menjadi 1,3 juta ton, dan peningkatan harga rata-rata Crude Palm Oil (CPO) di tahun 2011 sebesar 8%.
Divisi Infrastruktur dan Logistik
Laba bersih dari Divisi Infrastruktur dan Logistik tumbuh sebesar 68% menjadi Rp 602 miliar.
PT Marga Mandala Sakti (“MMS”), operator jalan tol yang 79,3% sahamnya dimiliki oleh Astra, mengoperasikan jalur Tangerang – Merak sepanjang 72,5 km, mencatat peningkatan volume trafik sebesar 11% menjadi 32,6 juta kendaraan. Pada kuartal tiga tahun 2011, Astra mengakuisisi 95% saham jalan tol Kertosono – Mojokerto sepanjang 40,5 km dengan nilai akuisisi sebesar Rp 750 miliar. Secara keseluruhan, investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp 3,5 triliun, termasuk untuk pembukaan lahan dan biaya konstruksi.
PT PAM Lyonnaise Jaya (“PALYJA”), perusahaan penyedia air bersih di wilayah Jakarta Barat, sepanjang tahun 2011 berhasil meningkatkan penjualan air bersih sebesar 4% menjadi 153,2 juta m3.
PT Serasi Autoraya (“SERA”), anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan laba bersih, terutama didukung oleh kenaikan jumlah kontrak sewa kendaraan di bisnis rental kendaraan TRAC sebesar 26%.
Divisi Teknologi Informasi
Kontribusi laba bersih Divisi Teknologi Informasi meningkat 20% menjadi Rp 108 miliar.
PT Astra Graphia Tbk (“AG”), yang 76,9% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, membukukan laba bersih sebesar Rp 139 miliar, naik 18% dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun 2011 Astra Graphia mendirikan perusahaan patungan (jointly controlled entities) dengan Monitise Asia Pacific. Perusahaan patungan ini akan menyediakan jasa mobile banking, pembayaran dan jasa komersil di Indonesia, diharapkan dapat beroperasi di tahun 2012.
Dividen
Final Dividen sebesar Rp 1.380 per lembar saham (2010 : Rp 1.130 per lembar saham) akan diajukan kepada pemegang saham pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di bulan April 2012. Usulan dividen final tersebut dan dividen interim sebesar Rp 600 per lembar saham (2010 : Rp 470 per lembar saham) menjadikan total dividen tahun ini sebesar Rp 1.980 (2010 : Rp 1.600) atau mengalami kenaikan 24%.

